by

Masyarakat Tarakan Masih Terbiasa Menggunakan Transaksi Tunai Dibandingkan Non Tunai

TARAKAN - Semakin berkembangnya zaman, segala sistem pelayanan di dunia telah mengalami revolusi. Termasuk dalam pelayanan pembayaran saat berbelanja. Hadirnya sistem non tunai dimaksudkan untuk mempermudah masyarakat dalam bertransaksi. Meski demikian, sistem ini masih terlihat asing pada beberapa wilayah berkembang. Salah satunya kota Tarakan.

Kondisi terlihat dari salah satu pusat perbelanjaan seperti Sinar Terang Bersaudara (STB) salah satu supermarket yang berada di Kota Tarakan. Saat dikonfirmasi, manajer STB Hernawan Riandi mengungkapkan, saat ini tidak banyak pelanggan yang menggunakan pembayaran non tunai saat berbelanja. Hal tersebut disebabkan buruknya kualitas jaringan sehingga kerap membuat transaksi terganggu.

"Kalau saat ini tidak banyak yah orang melakukan pembayaran non tunai. Mungkin perbandingan 80-20. 80 orang bayar cash sisanya non tunai.  Kalau kami melihat tidak stabilnya sistem jaringan membuat orang-orang malas menggunakan non tunai. Karena kalau sudah gangguan, malah lebih repot lagi. Apalagi di sini cukup sering terjadi," ujarnya, (19/1).

Karena jaringan yamg kerap mengalami gangguan, alhasil kondisi tersebut menimbulkan traumatis bagi warga yang pernah menggunakannya. Sehingga  masyarakat memilih cara aman dengan melakukan pembayaran cash.

"Ada juga beberapa pembeli yang bilang, kalau trauma pakai non tunai karena beberapa kali mengalami gangguan. Jadi mereka malas bolak balik bank mengurus lagi," tuturnya.

Ia menjelaskan, sebenarnya beberapa Bank swasta di kota Tarakan sejak lama melakukan sosialisasi ke Supermarket untuk mengajak pembeli menggunakan non tunai. Namun, karema sebagian besar pembeli terbiasa melakukan pembayaran cash sehingga upaya tersebut tidak dapat mengubah kebiasaan banyak orang.

"Sebenarnya sejak lama Bank-bank di sini sudah lama menyarankan untuk menggunakan sistem pembayaran non tunai, supaya juga penggunaan uang receh juga tidak terlalu besar. Tapi kita kembali lagi sama pembelinya. Kalau pembeli lebih senang uang tunai kita tidak bisa memaksa kan," tukasnya.

Dikatakannya, sebagian besar pengguna non tunai masih dilakukan masyarakat kelas menengah atas. Meski demikian, ia menjelaskan jika pihaknya lebih mudah melayani pembayaran non tunai. Hanya saja, kondisi jaringan yang kerap mengalami gangguan, membuat pihaknya kerap merasakan ketidaknyamanan.

"Kalau saya lihat yah, kebanyakan yang menggunakan ini orang-orang kalangan atas. Untuk menengah ke bawa tidak pernah. Yah, karena itu tadi sudah nyaman karena terbiasa. Dari pertama kali buka pelayanan non tunai 5 tahun lalu, sepertinya tidak ada peningkatan pengguna secara signifikan yah. Sebenarnya lebih mudah melayani non tunai, tapi karena jaringan di Tarakan sering gangguan, jadi repot juga mengurusnya. Kalau pakai uang kan, tinggal nyerahin selesai," tukasnya.

Terpisah, Syahbudin (31) seorang driver ojek online (ojol) mengaku lebih senang menerima pembayaran non tunai daripada cash. Menurutnya dengan pembayaran non tunai dapat membuat bonus yang didapatkan lebih besar. Meski demikian, ia mengakui tidak semua pelanggan mengerti menggunakan pembayaran tersebut.

"Saya lebih senang orang bayar pakai non tunai . Karena kalau membayar lewat itu, kami lebih cepat dapat bonus daripada langsung. Tapi memang orang terbiasa bayar pakai uang langsung daripada yang digital," pungkasnya.(*)