by

PN Tarakan Persembahkan Karya Mural Napak Tilas Sejarah Peradilan

TARAKAN - Lembaga peradilan tidak melulu berkutat dengan memutuskan perkara pidana dan perdata semata. Di Pengadilan Negeri Tarakan mempersembahkan sebuah karya berupa mural napak tilas sejarah lembaga peradilan di Indonesia sejak zaman penjajahan hingga kini.

Masyarakat yang berkunjung ke PN Tarakan akan dapat melihat persembahan karya ini pada tembok di depan dan sisi pengadilan.

"Secara gotong royong membuat mural  napak tilas sejarah mahkamah agung. Ada empat tokoh penting ada Ketua Mahkamah Agung, Direktur Jenderal Peradilan Umum, ketua pengadilan tinggi Kalimantan Timur dan Ketua Pengadilan Negeri Tarakan," jelas Humas Hakim PN Tarakan, Melcky Johny Otoh, SH belum lama ini.

"Nanti sisi pojok tembok sekitar 20an meter ini itulah kolaborasi sejarah dimulai peradilan di Indonesia. Mulai dari zaman Belanda orang Indonesia duduk di lantai ketika sidang sampai dengan sekarang tetap menyesuaikan bahwa kondisi global kita berada di bawah dampak COVID-19,"sambungnya.

Tujuan mural tentang napa tilas sejarah perjalanan lembaga peradilan ini agar masyarakat bisa mengerti sejaranya dari zaman mahkamah agung dahulu hingga dengan saat ini sudah serba elektronik.

"Semoga ini bermanfaat bagi bangsa negara, mahkamah agung dan masyarakat," imbuhnya.

Menurut Melcky, persembahan karya ini kepada bangsa dan mahkamah agung diluar tugas pokok para hakim yang terkesan agak 'angker' dengan artian hanya mengurusi perkara persidangan.

"Itulah pola kami untuk bersosialisasi dengan publik," singkatnya.

Melcky menambahkan, yang membuat mural ini dari komunitas pelukis lokal di Tarakan berjumlah  4, 3 laki-laki dan 1 perempuan.

"Mereka tidak minta dibayar, mereka mau mempersembahkan ini untuk bangsa dan negara," tutupnya.(hk3