by

Sejarah Singkat Kerajaan Tidung di Kaltara, Raja Pertama Datoe Radja Laoet dan Terakhir Datoe Adil

TARAKAN - Muhammad Izzam Athaya, bocah SDN 041 Tarakan ini berhasil mendapatkan perhatian masyarakat Indonesia fotonya terpajang di uang baru pecahan Rp75.000 di HUT Kemerdekaan RI ke-75 tahun pada 17 Agustus 2020.

Sebagian netizen melalui media sosial ada yang menanggapi pakaian adat yang dikenakan Izzam diklaim budaya cina. Sejatinya, pakaian adat yang dipakai Izzam adalah pakaian adat Tidung di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

"Baju yang dikenakan dalam emisi mata uang 75 ribu diantaranya terdapat anak-anak menggunakan pakaian adat Tidung di Kalimantan Utara. Baju itu digunakan dalam rangka upacara perkawinan adat Tidung, kalau yang digunakan anak itu merupakan pendamping daripada mempelai," kata Kepala Adat Besar Tidung Kalimantan, Amiril Pengiran H. Mochtar Basry Idris.

Ia menegaskan pakaian adat itu memang pakaian Tidung bukan pakaian cina. Amiril Pengiran H. Mochtar berterima kasih karena netizen membuat ini menjadi heboh dan viral.

"Saya berterima kasih, tapi khususnya saya sampaikan terima kasih kepada ananda Muhammad Izzam Athaya murid SDN 041 Tarakan, maupun di pihak lainnya," ujarnya.

Sejarah Kerajaan Tidung di Kaltara

Amiril Pengiran menceritakan secara singkat sejarah asal usul kerajaan Tidung di Kaltara yang bermula dari kerajaan Tidung Kuno yang berkedudukan di Manjelutung di tahun 155. Namun, secara resmi dikenal dunia pada tahun 1551.

Kerajaan Tidung berdiri pada tahun 1076-1551 di Binalatung, Tarakan karena pergerakan penjajah maka pergeseran kerajaan Tidung dimusnahkan penjajah yang  berlokasi di Binalatung.

"Bekas sudah tidak ada karena dimakan abrasi pantai. Dulu masyarakat Tidung berenang saja kalau ke Bunyu sekarang tidak bisa," jelasnya.

Dari kerajaan Tidung di Binalatung pindah ke daerah Pamusian berada di dekat Stadion Datu Adil tahun 1900an. Kemudian dilanjutkan keluarga besar dari keturunan Amiril Pangeran Djemaloel Kiram yang memiliki istana dekat kantor Pertamina EP.

"Itu juga hancur tapi balai roomnya masih ada yaitu Wisma Patra. Pada waktu itu Islam di orang Tidung ini belum sempurna masih belajar, yang dipojok lapangan tenis menghadap ke barat Suraw pertama orang Tidung diambil Belanda dipinjam VOC sampai sekarang ini tidak ada lagi bekasnya," urainya.

"Meriam itu Djemaloel Kiram punya, kita dulu tidak ada istilah istana paling banyak balai mayo, balai tupar, tidak kita ikut orang. Balai adat Tidung dengan mayo itu beda, balai mayo itu tempat tinggalnya, tempat kerjanya dan luas, balai adat seperti budaya. Jadi, raja Tidung itu ada, berkembang berpindah-pindah, terakhir Datu Adil itu," pungkas Amiril Pengiran.

Dinasti Tengara

Dahulu kala kaum Suku Tidung yang bermukim di pulau Tarakan, populer juga dengan sebutan kaum Tengara, oleh karena mereka mempunyai pemimpin yang telah melahirkan Dynasty Tengara.

Berdasarkan silsilah (Genealogy) yang ada bahwa, bahwa di pesisir timur pulau Tarakan yakni, di kawasan Binalatung sudah ada Kerajaan Tidung kuno (The Ancient Kingdom of Tidung), kira-kira tahun 1076-1156.

Kemudian berpindah ke pesisir barat pulau Tarakan yakni, di kawasan Tanjung Batu, kira-kira pada tahun 1156-1216. Lalu bergeser lagi, tetapi tetap di pesisir barat yakni, ke kawasan sungai bidang kira-kira pada tahun 1216-1394.

Setelah itu berpindah lagi, yang relatif jauh dari pulau Tarakan yakni, ke kawasan Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning, yakni, sekitar tahun 1394-1557.

Kerajaan Dari Dynasty Tengara ini pertama kali bertakhta kira-kira mulai pada tahun 1557-1571 berlokasi di kawasan Pamusian wilayah Tarakan Timur.

Silsilah Raja dari Dinasti Tengara, yaitu:

Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet (1557-1571)

Amiril Pengiran Dipati I (1571-1613)

Amiril Pengiran Singa Laoet (1613-1650)

Amiril Pengiran Maharajalila I (1650-1695)

Amiril Pengiran Maharajalila II (1695-1731)

Amiril Pengiran Dipati II (1731-1765)

Amiril Pengiran Maharajadinda (1765-1782)

Amiril Pengiran Maharajalila III (1782-1817)

Amiril Tadjoeddin (1817-1844)

Amiril Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1867)

Ratoe Intan Doera/Datoe Maoelana (1867-1896), Datoe Jaring gelar Datoe Maoelana adalah putera Sultan Bulungan Muhammad Kaharuddin (II)

Datoe Adil (1896-1916).(hk1)